NABIRE – AWII PAPUA,Com..Yan Ukago, S.T., M.T., seorang birokrat dan politikus asal Papua yang pernah menjabat di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua Tengah serta menjadi Calon Bupati Deiyai pada Pilkada 2024, menyampaikan gagasan strategis terkait penataan kawasan Pantai Nabire. Ia mengusulkan agar Pemerintah Daerah (Pemda) tidak langsung menunjuk konsultan, melainkan menggelar Sayembara Desain Tingkat Nasional terlebih dahulu.
Menurut Yan, langkah ini krusial karena Pantai Nabire bukan sekadar taman biasa, melainkan aset strategis yang terintegrasi dengan bekas bandara lama yang kini menjadi milik Pemprov Papua Tengah. Sebagai wajah Ibu Kota Provinsi, desainnya harus memiliki konsep kelas dunia, bukan sekadar hasil kerja cepat demi mengejar target waktu.
Yan Ukago menekankan bahwa dalam perencanaan tata ruang, nilai tertinggi terletak pada kedalaman konsep, bukan keindahan visual semata.
“Nilai mahal itu ada dalam konsep desainnya. Kalau soal gambar, AI (kecerdasan buatan) pun bisa membuatnya. Itu hanya soal tarik garis, beri warna, dan membuat indah di atas kertas. Kita tidak mencari gambar yang indah di papan baliho, tapi mungkin terlihat sederhana namun mengandung konsep luar biasa yang memecahkan banyak masalah,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa sebuah desain yang baik harus mampu menjawab tantangan multifungsi: sebagai taman kota, area wisata, ruang terbuka hijau, dan simbol identitas Nabire sebagai Ibu Kota Provinsi Papua Tengah. Konsep inilah yang sering kali terlewatkan jika proyek diserahkan langsung kepada konsultan tanpa kompetisi ide.
Gagasan sayembara nasional bertujuan untuk membuka keran kreativitas seluas-luasnya bagi seluruh anak bangsa. Yan menegaskan bahwa inspirasi desain tidak harus datang dari arsitek bersertifikat saja, tetapi juga bisa berasal dari seniman, pemuda, mahasiswa, atau bahkan masyarakat umum.
“Konsep desain adalah inspirasi, hasil terawangan, atau mimpi seseorang yang dituangkan dalam sketsa. Gambar boleh sederhana, tapi kaya akan filosofi dan solusi. Dengan membuka sayembara, kita memberikan kesempatan kepada siapa saja dari Sabang sampai Merauke untuk berkontribusi membangun Papua Tengah,” jelasnya.
Untuk menjamin objektivitas, penilaian akan dilakukan oleh tim juri independen yang terdiri dari arsitek, akademisi, seniman, ekonom, birokrat, dan budayawan. Aspek penilaian mencakup pemanfaatan tata ruang, aksesibilitas, keunikan, keberlanjutan lingkungan, serta kemudahan pemeliharaan jangka panjang.
Yan menguraikan mekanisme ideal yang sebaiknya diterapkan:Pemda menyusun Term of Reference (TOR) yang jelas,Sayembara dibuka secara nasional dan karya dinilai oleh dewan juri multidisiplin,Sepuluh karya terbaik dipilih, diberi hadiah, dan hak ciptanya menjadi milik Pemda, Kesepuluh konsep tersebut kemudian diserahkan kepada konsultan pelaksana sebagai referensi dasar (design brief) untuk menghasilkan gambar teknis akhir.
“Dengan cara ini, konsultan tidak bekerja dari nol, tetapi menyempurnakan ide-ide brilian yang sudah terseleksi. Ini memastikan hasil akhirnya benar-benar representatif dan berkualitas tinggi,” tambah Yan.
Yan juga mengingatkan bahwa banyak taman kota di Indonesia yang kurang tersohor karena proses desainnya tertutup dan tidak melibatkan publik.
“Tidak pernah ada satu desain yang ‘terbaik’ sejak awal. Desain terbaik baru akan terjawab setelah pembangunan usai dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Oleh karena itu, jangan biarkan karya lahir dalam kegelapan. Biarkan ide-ide bertarung secara sehat melalui sayembara, sehingga Pantai Nabire benar-benar menjadi ikon kebanggaan Papua Tengah,” pungkasnya.
